Sila Boshisattva

6 Pelanggaran Berat

1. Membunuh

Para umat yang mendalami Buddhadharma dan sebagai upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, nyawa sekecil semut pun, tidak pula diperkenankan sembarang dibunuh. Terutama bagi yang telah menerima sila, bila menyuruh orang lain melenyapkan nyawa makhluk hidup, atau sendiri yang melakukan pembunuhan, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, atau upasaka-sika yang bejat, atau upasaka-sika yang ternoda, atau upasaka-sika yang terbelenggu.

2. Mencuri

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan mencuri dan merampas harta milik orang lain, sekalipun dana sekecil apapun juga tidak diperkenankan. Apabila melanggar Sila Mencuri, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

3. Berdusta

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan berkata tidak jujur mendustai orang. Misalnya, “Saya telah mencapai tingkat Bodhisattva”, “Telah melampaui tiga alam dan memperoleh sidhi Arahat” dan sebagainya, hal semacam ini yang mana belum mencapai dikatakan mencapai telah merusak kedisiplinan sila. Orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

4. Berzinah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan hubungn intim dengan orang ketiga di luar pasangan suami istri (Apabila melakukan hubungn intim dengan istri sendiri yang sedang menjalani sila, saat lagi hamil tua, menyusui, atau pun melakukan hubungan suami istri dengan cara tidak wajar, juga termasuk berzinah), apabila melanggar Sila Berzinah, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

5. Menjual Beli Miras

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan transaksi jual-beli minuman keras atau sejenisnya (termasuk jenis barang yang dapat memabukkan pikiran manusia), apabila melanggar Sila Menjual-beli Miras, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

6. Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan menyebar-luaskan kesalahan para bhiksu dan bhiksuni, atau menyebar-luaskan kesalahan para upasaka dan upasika, apabila melanggar Sila Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah (bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika), orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

28 Pelanggaran Ringan

1. Tidak Berbakti pada Orang Tua dan Guru

Para siswa yang mendalami Buddha Dharma, menurut ajaran sila Sang Buddha, apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tidak menghormati dan berbakti pada orang tua dan guru (orang bijak yang mengajari Dharma), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci karena tidak berbakti, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

2. Bermabuk-mabukkan

Apabila upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, terlalu kecanduan pada kesenangan duniawi dengan bermabuk-mabukan, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak bersih dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

3. Tidak Menjenguk Orang Sakit

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila terdapat saudara atau rekan yang menderita sakit, malah menjauhi dan tidak bersedia membesuk atau merawat orang yang sakit, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan welas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

4. Tidak Memberi Sedekah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertemu dengan kaum papah yang datang mohon sedekah (atau yang datang mohon Dharma, kitab suci, dan pratima), hendaknya membaginya sesuai kemampuan, apabila sengaja membiarkan kaum papah pulang dengan tangan kosong, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan kikir, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

5. Tidak Menghormati Catur Parsadah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertemu dengan bhiksu, bhiksuni, upasaka-upasika yang lebih senior dan bijak, tidak sudi berdiri menyambut dan memberi salam dengan santun, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

6. Timbul Kesombongan Melihat Orang Lain Melanggar Sila

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila melihat bhiksu, bhiksuni, upasaka-upasika yang melanggar sila, lalu dalam hati timbul rasa sombong dan meremehkan, merasa diri sendiri lebih terpuji dan orang lain tidak sebanding, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

7. Tidak Menjalani Atanksila

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam setiap bulan, pada enamhari tertentu (hari ke-8, ke-14, ke-15, ke-23, ke-29, ke-30, kalau bulan yang tak memiliki hari ke-30, maka sebagai gantinya hari ke-28 dan ke-29) tidak menjalankan atanksila serta tidak memberi persembahan pada Sang Triratna, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan menjalankan sila, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan melanggar sila, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

8. Tidak Mendengarkan Dharmadesana

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam setiap bulan, bila mengetahui dalam radius 40 li terdapat tempat sadhana yang sedang membabarkan Dharma, namun tidak sudi hadir untuk mendengarkannya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan mendalami BuddhaDharma, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan melanggar sila, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

9. Menggunakan Sarana Milik Sangha

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tanpa persetujuan Sangha, sembarangan menggunakan barang yang dipersembahkan oleh para umat untuk Sangha, antara lain tempat tidur, tempat duduk dsbnya (termasuk segala peralatan yang digunakan oleh Sangha), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sangha, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bersifat serakah, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

10. Meminum Air Berbakteri

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, meskipun mengetahui dalam air minuman terdapat micro organ, namun tak menghiraukan Sila Membunuh dan meminumnya, apasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam tiga samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan membunuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

11. Berjalan di Tempat Berbahaya

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bepergian bakal melewati tempat berbahaya, namun tidak ingin mengajak rekan menemani lalu berjalan sendiri, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki parjna dan Bodhi (tidak menghargai nyawa untuk belajar Buddha Dharma), meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bertindak bodoh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

12. Seorang Diri Bermalam di Vihara Bhiksuni

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, sendirian bermalam di vihara bhiksuni (hingga menjalin cinta, menciptakan belenggu, mendatangkan kecaman), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan menjalin cinta, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

13. Berkelahi Demi Materi

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, demi keuntungan mencari nafkah, hingga memaki-maki atau memukuli pembantu, kacung, karyawan, orang luar dsbnya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas asih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci karena harta benda, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

14. Menyuguhkan Makanan Sisa

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, menyuguhkan makanan sisa kepada bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan hati mudita dan upeksa, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bersifat kikir, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

15. Memelihara Kucing

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, memelihara hewan kucing atau sejenisnya yang suka membunuh (melanggar sila membunuh secara tak langsung), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas asih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

16. Memberi Makanan Kotor pada Hewan Pemeliharaan

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, sebelum menerima Bodhisattva Sila, hendaknya segala hewan pemeliharaan antara lain gajah, kuda, sapi, kambing, unta, keledai dan lain-lain, baik hewan kesayangan maupun hewan tenaga pekerja, agar dengan tulus serahkan kepada mereka yang belum menerima sila. Namun kalau pemberiannya sampai menerima ganti rugi, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila pula, tak lagi memiliki kebersihan triguhya, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab

17. Tidak Berdana untuk Jubah Patra Karkata

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, hendaknya menabung dana untuk jubah patra karkata dan dipersembahkannya kepada bhiksu (bagi bhiksu yang belum memiliki sarana tersebut). Apabila bagi yang sanggup namun tidak berdana untuk hal tersebut, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berdana semestinya, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

18. Berladang di Air Kotor

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan berladang, hendaknya menjaga kebersihan air irigasi, tidak diperkenankan menggunakan air yang kotor, sekalipun bercocok tanam juga tidak diperkenankan menggunakan obat pembasmi hama. Apabila berniat membasmi, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

19. Berdagang Tidak Jujur

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan berdagang, setelah terjadi transaksi, tidak boleh lagi mengubah harga, begitu pula mesti menggunakan alat timbang yang memenuhi syarat untuk melakukan penimbangan atas barang dagangan yang memerlukan penakaran. Jangan sengaja mengurangi jumlah takaran (hendaknya ditegur dengan baik-baik). Jika tidak, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

20. Bersetubuh pada Waktu dan Tempat yang Tidak Layak

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, melakukan hubungan badan di luar kamar tidur sendiri (misalnya di vihara, tepi jalan, samping stupa, ruang ibadah, atau tempat umum), dan melakukannya pada hari suci Buddha Bodhisattva, Hari Waisak, Hari Atanksila, hari kelahiran ayah-ibu, hari kelahiran diri sendiri (artinya hari di mana ibu menderita), dan melakukannya pada siang hari, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki kesucain hati menjalankan sila, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan, pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

21. Tidak Menunaikan Pajak

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bagi yang bernafkah dengan usaha bisnis, baik retailer, maupun agen, atau ekportir importir, atau produsen, bila tidak mengikuti peraturan pemerintah dan memanipulasi pajak, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki kesucian triguhya, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

22. Melanggar Hukum Negara

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertindak melanggar tata negara, peraturan negara, hukum negara, norma-norma tradisi dan sebagainya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, menanam karma buruk ucapan, pikiran, dan perbuatan, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

23. Tidak Mempersembahkan Makanan pada Sang Triratna

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila memperoleh makanan bersih antara lain buah-buahan, lauk-pauk dan sebagainya, langsung memakannya tanpa terlebih dahulu mempersembahkannya pada Sang Triratna, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

24. Tidak Mendengarkan Ceramah dari Sangha Malah Berceramah Sendiri

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tanpa persetujuan Sangha lalu memberi ceramah Dharma sendiri, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak menghormati Sang Triratna, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

25. Bertindak Lancang di Hadapan Panca Parsadah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila berjalan bersama Panca Parsadah (bhiksu, bhiksuni, sramanera, sramanerika, dan siksamana), hendaknya berjalan di belakang Panca Parsadah agar menaruh kehormatan pada Sangha. Bila bukan dalam kondisi khusus (misalnya ada rintangan jalan, bahaya, amanat dll.) lalu sengaja berjalan melampauinya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

26. Berdana kepada Sangha dengan Tidak Adil

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, pada kesempatan perjamuan bersama bertindak tidak adil, yaitu memberi persembahan makanan lezat secara berlebihan hanya pada bhiksu yang disukainya saja, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki keseimbangan batin dalam hal persembahan, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan keseimbangan batin, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

27. Memelihara Ulat Sutra

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan memelihara ulat sutra, (sebelum dicabut sutranya, ulat akan digodok dengan air mendidih, hal ini melanggar Sila membunuh), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan berbuat karma membunuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

28. Acuh Saat Melihat Orang Sakit

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam kesempatan di tengah jalan bertemu orang yang menderita sakit, bila diri sendiri tak dapat memberi bantuan dan penolongan, juga tak dapat mencari bantuan dengan menghubungi rekan atau lembaga terkait, malah meninggalkannya tanpa memberi kepedulian, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

Prev Next

Buku Mencerminkan Hatiku

Berita ZFZ

Buku Mencerminkan Hatiku

"Dharma yang diturunkan secara tertulis dapat memberi manfaat kepada banyak generasi yang akan datang." Itulah jawaban Sheng-yen Lu ketika ditanya mengapa ia sangat tekun menorehkan karya tulisnya. Banyak yang tidak menyadari,...

Read more

Rekaman Upacara Argam Puja Mahamayuri Y.…

Berita ZFZ

Melalui kerja keras dari semua pihak, rekaman upacara Argam Puja Mahamayuri telah selesai dibuat. Video rekaman bisa Anda saksikan di situs TBF: koleksi ceramah Dharma Y.A. BuddhaHidup Lian Sheng. Mulacarya Zhenfo Zong...

Read more

Dharma With Love

Berita ZFZ

Dharma With Love merupakan tema kegiatan akhir tahun yang diselenggarakan di Vihara Vajra Bumi Nusantara pada 28 Desember 2012 hingga 1 Januari 2013. Kegiatan ini terlelenggara berkat kerjasama Pazhenka DPD...

Read more

Four Face Buddha

Berita ZFZ

Tidak terasa rupang Shi mian fo/Four Face Buddha sudah lebih dari 2 tahun berada di halaman Vihara Vajra Bumi Nusantara. Jumat tanggal 9 November 2012 kalender international adalah hari ulang...

Read more

Upacara Agung Rantai Vajra Kalachakra

Berita ZFZ

Upacara Agung Rantai Vajra Kalachakra

Upacara Agung Rantai Vajra Kalachakra yang paling dalam, paling luar biasa, paling tinggi akan ditransmisikan perdana di Jakarta, Indonesia. Waktu upacara: 25 Maret 2012 (Minggu), pukul 14.00 WIB. Mengundang Y.A. Grandmaster Lu...

Read more

Acarya Lianning Pemimpin Zhenfo Zong Gen…

Berita ZFZ

Acarya Lianning Pemimpin Zhenfo Zong Generasi Kedua

Y.A. Buddha Hidup Liansheng menganugrahi langsung jubah silsilah Ganden Tripa Rinpoche kepada Dharmaraja Acarya Lianning serta mengangkatnya menjadi pemimpin Zhenfo Zong generasi kedua. Perintis Zhenfo Zong Y.A. Buddha Hidup Liansheng, dalam...

Read more

Homa Padmakumara Perdana di Desa Sumber …

Berita ZFZ

Homa Padmakumara Perdana di Desa Sumber Pang

Wagir adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten malang jawa timur, disana ada sebuah Desa yang bernama Sumber Pang. Desa ini di huni oleh sekitar 200 keluarga penduduk pribumi,...

Read more

Upacara Ratna Desana Satya Buddha dan HU…

Berita ZFZ

Tangerang -  Pada 19 Juni 2011, Ada yang tampak berbeda dari tiap-tiap sudut Vihara Vajra Bumi Nusantara. Ternyata pada tanggal tersebut, Vihara Vajra Bumi Nusantara akan menyambut kedatangan para umat...

Read more

Upacara Homa Pertama Cetya Vajra Bumi Si…

Berita ZFZ

Upacara Homa Pertama Cetya Vajra Bumi Singaperbangsa

Setelah direncanakan sekian lama, akhirnya rencana Cetya Vajra Bumi Singaperbangsa (CVBS), Karawang untuk menyelenggarakan sebuah Upacara Api Homa untuk memberkati Cetya, para umat se-Dharma serta memutar Dharmachakra dapat terwujud. Tepatnya,...

Read more

Upacara Pertobatan (Ratna Desana) Satya …

Berita ZFZ

Tanggal 5 April 2011 yang bertepatan dengan hari perayaan Qingming, Vihara Vajra Bumi Jayakarta menyelenggarakan Upacara Pertobatan (Ratna Desana) Satya Buddha yang dipimpin oleh Vajra Acarya Shi Lianhong dengan didampingi...

Read more

Upacara Apihoma Bodhisattva Ksitigarbha …

Berita ZFZ

Minggu, 3 April 2011 Vihara Vajra Bumi Nusantara menggelar “Upacara Apihoma pemberkahan dan penyeberangan Bodhisattva Ksitigarbha” dalam rangka memperingati hari Qingming (Ziarah) yang mana-pada penanggalan Internasional jatuh di tanggal 5 April...

Read more

Dharmaraja Liansheng Hadir di Indonesia

Berita ZFZ

Setelah berselang 17 tahun, 18 Februari 2011 (Jumat), Mulacarya Zhenfo Zong Buddha Hidup Liansheng kembali hadir di Indonesia, diikuti oleh Acarya Lianji, Acarya Lianning, Acarya Lianhe, Acarya Lianfu, Acarya Lianchong,...

Read more
Prev Next

10 Pahala Pelepasan Satwa

Sadhana Tantra

Pelepasan satwa (fangshen/Satwamocana) memiliki sepuluh pahala kebajikan berikut: 1. Tiada petaka akibat senjata tajam dan peperangan. 2. Berbagai kemujuran akan berkumpul. 3. Panjang usia dan sehat.Sutra Buddha mengatakan : seorang yang menjalankan sila...

Read more

Makna Bersarana

Sadhana Tantra

Bersarana adalah berlindung, bersandar, dan penyelamatan. bersarana pada Mula Acarya, bersarana pada Buddha, bersarana pada Dharma,bersarana pada Sangha, yang dinamakan Catursarana. Bersarana pada Vajra Acarya karena Mula Acarya sendiri telah mendapat...

Read more

Niat Tulus Bertemu Mahaguru

Sadhana Tantra

Niat Tulus Bertemu Mahaguru

Sebagaimana murid Zhenfo Zong lainya, saya juga mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan Mahaguru Liansheng ke Indonesia dalam rangka peluncuran buku Mahaguru berbahasa Indonesia yang ke-191 berjudul ‘Ekskalasi Alam Dewa’. Selasa, tanggal...

Read more

Sembilan Langkah Pernafasan

Sadhana Tantra

Melakukan Sembilan Langkah Pernafasan sebelum memasuki samadhi bermaksud untuk menghentikan pengembaraan pikiran dengan memperhatikan pernafasan. Manfaatnya besar sekali. Ini adalah hasil penghayatan dan pengalaman saya saya (Mahaguru Liansheng) selama melatih...

Read more

Cara Penggunaan Japamala

Sadhana Tantra

Cara Penggunaan Japamala

Melakukan Sembilan Langkah Pernafasan sebelum memasuki samadhi bermaksud untuk menghentikan pengembaraan pikiran dengan memperhatikan pernafasan. Manfaatnya besar sekali. Ini adalah hasil penghayatan dan pengalaman saya saya (Mahaguru Liansheng) selama melatih...

Read more

Copyright by Zhenfo Zong Indonesia. All rights reserved. Powered by Auto Web Manager