Upacara Penyeberangan Qingming VVBN

Last Updated on Thursday, 03 April 2014 09:07

Hits: 2741

Kemenag Alokasikan Dana Rp 500juta / Dhammasekha


kemenagalokasikandanarp500jutaJakarta, Harian Nusantara - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia mengalokasikan dana Rp500 juta per unit kegiatan Dhammasekha, program pendidikan agama dan keagamaan Buddha yang berbasis non-formal. Dirjen Bimas (Bimbingan Masyarakat) Buddha Kemenag sudah menginventarisasi 35 tempat untuk penyelenggaraan Dhammasekha. Rencananya, Dhammasekha akan diselenggarakan secara merata di seluruh Indonesia. “Dhammasekha merupakan program unggulan Dirjen Bimas Buddha. Program tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 55/2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan,” Sekretaris Dirjen (Sesdirjen) Bimas Buddha Kemenag Dasikin mengatakan kepada Harian Nusantara (13/11).
PP 55/2007 menjelaskan bahwa berbagai jenis pendidikan agama dan keagamaan Buddha, termasuk Pabbaja Samanera dan sekolah minggu. Dhammasekha juga terdiri dari beberapa core. Kegiatan di setiap core berbeda satu sama lainnya. Ada core ketrampilan, dimana peserta diarahkan untuk inovatif dan kreatif. Core keterampilan tidak lepas dari program pemerintah pusat, yaitu pengembangan ekonomi kreatif. Sedangkan core agama lebih diarahkan pada kegiatan pendidikan di luar sekolah. “Setiap hari Senin sampai Jumat, setelah anak-anak pulang sekolah. Mereka berkumpul di Dhammasekha. Mereka belajar mengenai budi pekerti, ketrampilan, dan nilai-nilai luhur budaya.”
Pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu sore, kegiatan Dhammasekha bisa terselenggara. Tetapi kegiatan di Dhammasekha tidak mengarah pada satu sekte atau mazhab tertentu. Dhammasekha diarahkan untuk kegiatan agama dan keagamaan Buddha non-sekte. “Tidak ada tata cara kebaktian atau pengertian mazhab tertentu. Kami punya program ini bekerjasama dengan lembaga keagamaan. Kami sudah sosialisasikan program ini di berbagai acara baik formal maupun informal.”
Program Dhammasekha pada prinsipnya, bersinergi dengan program yang sudah ada. Karena kepengurusan di setiap Wihara, dan Majelis, sudah punya program masing-masing. Tetapi dengan program Dhammasekha, tidak tertutup kemungkinan untuk saling mengisi dan bersinergi. “Misalkan ada Wihara yang sudah punya program Pabbaja. Kita kerjasama untuk peningkatannya. Program kerjasama bukan hanya sebatas dengan pengurus Wihara, Majelis, tetapi (pengurus) lembaga keagamaan.”
Kemenag menyampaikan program tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat. Sampai saat ini, baru ada satu kepengurusan Wihara yang merespons Dhammasekha, yaitu Bodhi Citta di Tangerang. “Pengurus Yayasannya datang ke sini (gedung Kemenag di Jl. MH Thamrin No. 6).”
Pertemuan pengurus dengan Sesdirjen akhirnya mencapai pada satu titik temu. Visi dan Misi ternyata parallel satu sama lainnya. Akhirnya ada kesepakatan untuk menindak-lanjuti program Dhammasekha di wilayah Tangerang, khususnya Bodhi Citta. Kebetulan di beberapa wilayah provinsi Banten, termasuk Tangerang, Serpong, Serang, perkembangan agama Buddha berjalan pesat. “Sehingga Boddhi Citta menjadi proyek percontohan Dhammasekha. Kalau ini sukses, kita akan tingkatkan ke lembaga lain, bukan hanya di Banten, tetapi di seluruh Indonesia.”
Sesdirjen juga melihat perkembangan dan pembangunan rumah-rumah ibadah agama Buddha semakin meningkat. Sehingga Pemerintah terus memperkuat empat fungsi rumah ibadah. Kemenag mencanangkan Visi dan Misi, termasuk pembangunan masyarakat yang taat beragama, rukun melalui empat fungsi rumah ibadah. Ke-empat fungsi tersebut antara lain fungsi agama secara utuh, sosial, pendidikan dan kebudayaan. “Brahma Wihara, caitya, Wihara, atau apa saja (bentuknya) asal tempat ibadah umat Buddha, harus mengakomodasi empat fungsi tersebut.”
Tempat ibadah agama Buddha harus semakin terbuka. Karena kegiatan pendidikan, ibaratnya berlangsung sejak dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Pendidikan sekarang ini bukan lagi sebatas tanggung-jawab orang tua, dan guru. Tetapi pendidikan dalam arti yang lebih luas, sekarang sudah melibatkan para pengurus rumah ibadah. Sehingga Pemerintah berharap, para pengurus Wihara bekerjasama dengan Yayasan bisa mendirikan sekolah berciri-khas agama Buddha. “Sehingga sekolah formal berciri-khas agama Buddha menanamkan pengertian Buddha Dharma sejak usia dini.” (LHS). Sumber : Harian Nusantara, 14 November 2013

Last Updated on Thursday, 14 November 2013 10:40

Hits: 3049

Copyright by Zhenfo Zong Indonesia. All rights reserved. Powered by Auto Web Manager